A Thankful for the Finished Story

Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang iseng membuka akun facebok saya yang mulai jarang saya manjakan, saya melihat foto kamu di beranda saya. Iya, foto kamu. Bersama seorang wanita yang nampaknya sangat bahagia saat itu. Sama halnya dengan kamu. Kalian tersenyum, dan garis-garis senyuman kalian menyiratkan cinta. Cinta yang barangkali sama seperti yang dulu pernah sempat sama-sama kita rasakan.

Oh ya, sebelum terlalu jauh salah memaknai, biar saya jelaskan terlebih dahulu. Singkat saja dulu. Kalau kamu berkenan, penjelasan lebih lanjutnya ada di baris demi baris yang akan saya tulis.

Tulisan ini sama sekali bukan tentang curahan hati saya yang sedang sendu atau biasa mereka sebut sebagai galau. Bukan juga cerita tentang saya yang tidak bisa move on. Bukan. Tulisan ini tercipta lebih karena saya ingin berterima kasih, mensyukuri apa yang pernah sempat terjadi dan kita alami bersama.

Kamu masih ingat bagaimana dulu pertama kali kita bertemu? Saya gak perlu cerita ya. Terlalu panjang kalau kita bahas disini. Saya cuma mau minta kamu mengingat dan mengenangnya sejenak saja. Kalau sudah, sekarang saya ingin ajak kamu untuk tersenyum dan tertawa. Pertemuan itu konyol buat saya. Semacam ftv yang biasa ditayangkan di televisi. Terlalu sederhana. Saya terkadang justru menganggapnya terlalu kekanak-kanakkan. Tapi siapa yang bisa sangka ternyata itu justru cara Tuhan untuk membuat kita saling mengenal untuk kemudian diperkenalkan pada hal yang saat itu kita namakan cinta.

Kalau saya boleh bilang, kamu waktu itu tergila-gila dengan saya. Kemudian kamu melakukan segala cara untuk buat saya rasakan hal yang sama. Syukur dan beruntungnya kamu karena ternyata kamu berhasil membuat saya jatuh cinta dan mengatakan iya untuk permohonan kamu menjadikan saya sebagai orang spesial kamu. Di awal kebersamaan kita, yang kita rasa cuma bahagia. Dunia serasa cuma milik kita berdua. Tapi Tuhan Maha Adil. Dia lantas tak biarkan kita melulu bahagia. Di bulan ke-13 kamu memutuskan untuk pergi dari saya. Saya lantas terpuruk. Mungkin juga kamu rasakan hal yang sama. Yang waktu itu saya rasakan, saya menjadi serba sensitif. Saya jadi terlalu cepat menangis tiap mengingat bahwa kebiasaan kita mulai saat itu menjadi hal yang tidak lagi bisa dibiasakan. Saya juga semacam menjadi gila karena kehilangan kamu. Untungnya Tuhan memang Yang Maha Adil. Tak pernah Dia biarkan saya terus-menerus terpuruk dan kehilangan tenaga untuk bangkit. Singkat kata, saya akhirnya bisa move on dari kenangan tentang kita, meski awalnya tertatih.

Yang selanjutnya ingin saya bilang adalah: saya turut berbahagia atas hidup kamu yang sekarang. Bersama wanita pilihan kamu itu. Ini sama sekali bukan sebuah ironi atau kalimat sindiran. Saya benar-benar berbahagia untuk kamu. Ah, ya, juga untuk kehidupan saya saat ini. Sekarang saya bisa tertawa lepas, menertawakan masa-masa dulu kita pernah bersama, dan mensyukuri bahwa sekarang saya bisa lebih bahagia tanpa kamu. Jangan salah sangka dulu sama kalimat saya. Kebahagiaan saya yang sekarang juga tidak lepas dari andil dan peran kamu dalam hidup saya yang lalu. Kalau saya tdak kenal kamu, mungkin akan jadi beda lagi ceritanya. Sekarang sudah tidak ada kamu dalam hidup saya, juga sudah ada cinta baru di kehidupan saya. Pun halnya dengan kamu. Kita sudah menapaki jalan hidup kita masing-masing dan berbahagia karenanya. Barangkali ini akan jadi babak baru dalam hidup saya atau kamu. Entahlah. Yang pasti, saat ini saya sungguh sangat bahagia melihat senyum kamu bersama wanita itu. Senang mengetahui bahwa ternyata kita sama-sama lebih bahagia ketika tak lagi bersama. Keputusan Tuhan memang paling tepat ya.

Saya pikir, tidak mudah juga lho belajar untuk mengikhlaskan. Sampai saat ini saya masih temukan banyak sekali teman-teman saya belum bisa melepaskan hal yang sebenarnya (mungkin) bukan lagi diperuntukkan bagi mereka. Mereka belajar melepaskan dengan mulai melupakan. Tapi tidak bagi saya saat itu. Saya tidak belajar melupakan kamu ataupun kenangan kita, tapi dengan belajar memahami bahwa kamu memang didatangkan Tuhan untuk bisa saya lepaskan. Hmm, yah orang boleh bilang bahwa bicara memang jauh lebih mudah ketimbang tindakan. Tapi saya juga boleh bilang bahwa apa yang saya katakan sekarang adalah representasi dari tindakan saya di masa lalu.

Masih banyak cerita yang sebenarnya ingin saya bagi dengan kamu. Intinya tetap sama. Saya cuma mau bilang terima kasih kok. Barangkali kalau Tuhan izinkan kita bertemu lagi di lain kesempatan, saya akan ungkapkan secara langsung bentuk syukur dan terima kasih ini. Semoga kamu benar-benar berbahagia atas hidup kamu sekarang dan selanjutnya ya. Dan kepada mereka yang belum berhasil mensyukuri arti kehilangan, mari bersama-sama kita doakan supaya mereka bisa segera menjadi lebih bahagia karena mau melepaskan dengan legawa.

Sampai disini dulu, ya. Silakan melanjutkan hidupmu dan selamat berbahagia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Widyarta Mega Paramita – All Rights Reserved.