Yang Tak Sempurna
Beberapa minggu lalu, bahkan sejak sebelum perayaan tahun baru 2014 kemarin, saya dipusingkan oleh satu pertanyaan: mau memberi hadiah apa di hari ulang tahunmu besok? Pertanyaan ini pada akhirnya membuat saya mengembara dan berpetualang dari jendela toko satu ke toko yang lain untuk menemukan jawaban yang pantas. Sembari mencari jawaban untuk pertanyaan sederhana ini, pikiran saya juga ikut berkelana, memunculkan berbagai pertanyaan lain yang satu per satu terjawab kemudian.
14 Januari besok adalah hari lahirmu. Selayaknya kebanyakan pasangan kekasih lain di luar sana, sebagai kekasih yang (semoga) baik, saya juga ingin memberikan sebuah persembahan kecil dalam rangka memperingati berkurangnya satu tahun kehidupanmu ini. Berbekal keinginan sederhana inilah, saya kemudian menjalani proses menemukan jawaban itu.
Pada dasarnya, saya tidak ingin memberikan hadiah yang ‘biasa saja’, bisa jadi mungkin sebuah hadiah yang terasa ‘wow’ untuk kamu, meskipun keluarbiasaan itu sebenarnya adalah sebuah persepsi dan relativitas yang tidak bisa saya paksakan. Apa yang saya anggap wow, belum tentu kemudian juga kamu anggap sebagai sesuatu yang wow. Karena tidak ingin memberikan sesuatu yang biasa dan penilaian itu sejatinya adalah urusan pribadi masing-masing, maka keinginan memberikan sesuatu yang wow ini lantas saya belokkan menjadi: memberikan sesuatu yang menarik dan kira-kira bermanfaat untuk kehidupanmu sehari-hari. Saya lantas bertanya kesana kemari, meminta berbagai pendapat tua dan yang muda, wanita dan pria, teman dekat atau jauhmu, atau bahkan yang tak pernah mengenalmu, hanya untuk sekedar menemukan jawaban.
Salah seorang pasangan teman saya sempat menyarankan “kasih miniatur alat musik aja, gitar atau bass, kalau bisa malah yang bisa dilukis terus tulis nama kalian deh.” Hadiah ini cukup menarik dan bisa jadi tidak tertandingi kalau memang benar ada yang bisa membuat tulisan nama kita di atasnya. Tapi, sejatinya, saya masih kurang sreg. Saran pertama ini akhirnya saya lewatkan begitu saja.
Teman saya yang lain, berbeda lagi jawabannya, “apapun yang kamu kasih, dia pasti akan terima. Namanya juga dikasih, masak iya mau marah?” Ya betul juga jawaban ini. Jadi intinya, teman saya yang satu ini menyarankan saya supaya tidak bingung dan galau mau memberi hadiah apa. Tapi, lagi-lagi, saran teman saya ini seperti belum menjawab pertanyaan saya sebelumnya. Akhirnya, saya masih berkutat bertanya kesana kemari untuk mencari tau jawaban atas pertanyaan saya sebelumnya.
Waktu terus bergulir, minggu demi minggu terlewati dan tidak terasa harimu ini sudah semakin mendekati deadline. Dua minggu sebelum deadline itu, pada suatu kesempatan, kita lantas pergi berdua bersama. Secara tidak sengaja, saya melihat dompet unik Teddy Bear-mu itu. Inspirasi pun kemudian hadir dalam benak saya. Aaah, kenapa bukan dompet yang saya beri? Dompet lama itu bukan berarti sudah tak pantas lagi digunakan, pikir saya waktu itu, “mungkin kamu bisa jadi lebih oke dengan dompet baru.” Pikiran saya kemudian segera mengembara secara liar, membayangkan desain dompet seperti apa yang akan saya berikan padamu: hitam, mulus, memiliki banyak kantong, dan tentunya harus fungsional sesuai kebutuhanmu. Ide yang kali ini saya rasa adalah ide yang paling mengena di hati saya. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya pun segera berburu mencari dompet idaman seperti yang sudah sempat saya bayangkan sebelumnya.
Mungkin karena pada dasarnya saya adalah orang yang perfeksionis, proses pencarian dompet ini menjadi proses yang juga tidak mudah. Meski sudah menentukan kriteria dompet seperti apa yang saya inginkan, tetap saja saya seperti tidak menemukan yang ‘pas’. Padahal, sepanjang saya mencari, dompet hitam mulus dengan banyak kantong dan sekiranya fungsional untuk kamu sudah seringkali saya temui. Tapi, entahlah, dompet-dompet itu seperti tidak bisa menarik perhatian saya lebih lanjut. Mereka seperti hanya sekedar dompet (ya terus?). Sampai akhirnya, ketika saya memutuskan untuk memaksa diri memilih satu diantara banyak dompet (yang sekedar dompet) itu, saya mencoba masuk ke salah satu distro dekat rumah. Distro ini adalah distro yang jauh lebih sederhana dibandingkan distro-distro sebelumnya yang sudah saya kunjungi. Barang-barang yang dipamerkan disana, menurut saya pribadi, masih jauh dari kata beragam dan up-to-date. Meski nampaknya saya tidak akan menemukan apa yang saya cari, saya masih meneruskan pencarian ini. Barangkali ada, pikir saya waktu itu. Saya lantas asik menelusuri sudut-sudut distro ini. Di tengah penelusuran tak berharap ini, ada satu dompet yang berhasil mencuri perhatian saya. Sang pramuniaga distro lantas menawari saya untuk melihat lebih lanjut dompet tersebut dan saya pun menyetujuinya.
Dompet itu berwarna coklat muda, dengan kantong yang juga tidak terlalu banyak, berbeda seperti apa yang sebelumnya saya bayangkan. Secara tampilan luar, ada noda kecil yang berwarna sedikit lebih pudar dibanding warna aslinya, juga sisa benang jahitan yang tak rapi di dalamnya, tapi saya pikir, saya bisa mengguntingnya di rumah nanti. Yah, dompet itu tak mulus dan jauh dari sosok dompet yang saya idam-idamkan sebelumnya, tapi, entah mengapa, saya kok rasanya dibuat jatuh cinta sama dompet itu. Setelah saya mem-bolak-balik dompet itu cukup lama, saya pun memutuskan untuk membelinya dan segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, saya buka lagi dompet coklat itu. Dompet yang jauh dari sempurna, batin saya. Saya jadi tak habis pikir sendiri. Dompet itu bukan dompet hitam, apalagi mulus. Tapi, perasaan saya bilang dompet ini cocok untuk kamu dan kamu pasti suka (semoga perasaan saya gak salah). Pikiran saya lantas melanglang buana, membayangkan kamu. Saya jadi tersenyum sendiri, dompet ini sepertinya mewakili apa yang saya pikirkan tentang sosok seorang kamu. Meski tak punya kriteria khusus dalam menentukan sosok seorang kekasih, dulu saya pikir saya akan menemukan seseorang yang tak jauh berbeda dengan saya. Laki-laki yang rapi, yang sama-sama terorganisirnya seperti saya, yang juga punya standart perfeksionis tak jauh berbeda dari saya, dan menyukai hal-hal yang sekiranya mirip lah dengan apa yang saya juga suka. Tapi, kenyataannya justru berkata lain. Saya malah kesemsem dengan sosok kamu. Kamu yang jauh dari sempurna, kamu yang slengekan, kamu yang tak rapi, kamu yang tak punya unsur perfeksionis dan cenderung let it be, kamu yang jauh dari keteraturan, kamu yang super woles, kamu yang… aahh… memang jauh berbeda dengan apa yang sempat saya bayangkan. Tapi kenapa justru kamu yang seperti ini yang bikin saya jatuh cinta? Entahlah, saya sendiri juga bingung. Mungkin kamu punya sesuatu yang menarik di mata saya. Mungkin juga karena kamu memberi warna yang berbeda dalam hidup saya. Atau, mungkin,…….. ah entahlah. Saya tak bisa jelaskan.
Seperti katamu, kalau saya adalah api yang ganas membakar, kamu adalah air yang bisa menyejukkan. Kalau menurut saya, kita adalah mesin mobil, saya ibarat pedal gas, dan kamu adalah pedal rem yang tahu kapan harus memberhentikan mesin dan kapan harus membiarkan mesin berlari kencang. Kamu sama sekali tak sempurna, tapi dari situ saya juga jadi sadar bahwa saya pun sangat jauh dari kata sempurna. Kamu yang kemudian membuat saya belajar bahwa sesekali berantakan itu menyenangkan, bahwa terkadang berperilaku let it be ternyata menenangkan, bahwa ternyata hidup bisa jadi sama bahagianya ketika kita membebaskan diri dari rencana-rencana ke depan yang terlalu detail. Kamulah yang kemudian mengajarkan bahwa menjadi tak sempurna dan bisa saling melengkapi itu ternyata juga terasa indah. Meski saya tak tahu apakah akhirnya di masa depan nanti saya dan kamu akan tetap menjadi kita, setidaknya saya selalu menikmati dan berterima kasih atas kebersamaan-kebersamaan kita saat ini. Kamu, juga dompet yang tak sempurna itu menyadarkan saya bahwa jatuh cinta ternyata memang bisa terjadi tanpa alasan yang rasional. Saya mencintai ketidaksempurnaan yang ada di dirimu, juga yang selalu ada di hubungan kita.
Anyway, have a happy birthday! (And I’m very sure you will).
Love you.
Malang, 2014.