Selamat Ulang Tahun, Amrul.

Tanpa saya sadari, berbagai macam orang dalam hidup mampu membuat saya menampilkan beberapa jenis perilaku.
Ada mereka yang mampu membuat saya tertawa lepas.
Ada mereka yang mampu mengeluarkan sisi pejuang saya, membiarkan saya berjuang dan menembus batas pribadi saya.
Ada mereka yang mampu membuat saya terus merasa kecil dan selalu ingin belajar; ada pula yang mampu membuat saya menjadi wanita manja ketika bersamanya.
Yang satu ini, ia berbeda.

Dia mampu membuat saya menampilkan sisi antagonis saya.
Ketika bersamanya, saya tak jarang tersenyum, tapi juga seringkali menjadi begitu murka.
Berbincang bersamanya bukan menjadi sebuah obrolan manis sepasang sahabat, melainkan sebuah perdebatan.
Ketika merindunya, yang saya ingat cuma perbuatan menyebalkannya.
Kekesalan adalah hal yang tak pernah bisa tak diceritakan ketika membicarakan dirinya.

Dia barangkali adalah laki-laki pertama yang sukses membuat saya mengumpat langsung di hadapannya, bahkan mantan kekasih saya pun tak pernah bisa melakukannya ;D
Dari sekian banyak teman dan sahabat, dia juga yang seringkali membuat saya mengelus dada, ngomel hingga oktaf tertinggi, bahkan diam tak ingin bicara; tingkat kemarahan tertinggi seorang wanita.
Tapi yang seringkali saya pertanyakan, mengapa tak pernah sedikit pun terlintas di benak untuk pergi menjauh darinya.

Sejatinya, dia bukan tak pernah menjadi baik di hadapan saya.
Saya menyadari bahwa dia merupakan salah satu berkat yang dikirimkan Tuhan.
Dia adalah salah satu sahabat yang terlalu sering saya repotkan, bahkan untuk hal yang terlalu sepele, dan dia tak pernah keberatan.
Dia juga yang seringnya cuma saya ingat ketika saya butuh berkeluh kesah kepada seseorang. Beruntungnya, ia tak pernah menghindar.
Di saat sahabat-sahabat lain terlanjur memaklumi sisi acuh saya dengan menjadi peduli seperlunya, dia selalu tak pernah absen dengan kepeduliannya. Meski kemudian sering saya terima kepedulian itu dengan respons ala kadarnya.
Ketika perilaku tak wajar sahabat lain bisa saya maklumi, dia yang selalu saya minta berkali-kali untuk mau sedikit berubah, bersikap menjadi lebih elegan, lebih ‘berkelas’. Dan berkali-kali pula dia dengan sabar menurutinya, belajar untuk berubah, yang ternyata di hadapan saya selalu menjadi tetap kurang atau terlalu berlebihan.

Ketika mengingat namanya dan segala kenangan kami, saya seringkali menyadari bahwa saya terlalu sering membuatnya tak berharga.
Yang kemudian membuat saya meniatkan diri untuk berperilaku lebih manis ketika bertemu di kemudian hari.
Sayangnya, niatan itu hanya akan jadi angin lalu.
Saya tak pernah berhasil menahan diri untuk menjadi antagonis di hadapannya.
Semakin lama kami bersahabat, rasanya saya telah sampai pada tahap mempercayai bahwa saya memang tercipta untuk menjadi antagonis di hadapannya.

Di hari ini, di seperempat abad kehidupannya, ucapan maaf yang terbersit untuk saya ucapkan rasanya menjadi terlalu berharga untuk dirinya.
Bukan, bukan karena saya tak ingin mengucap maaf untuk segala kerepotan yang telah saya ciptakan.
Lebih karena saya merasa akan menjadi percuma ketika di kemudian hari saya akan menciptakan beragam kerepotan baru untuknya.
Maka, barangkali yang bisa saya bisikkan dari dalam hati cuma sebuah harapan kecil.
Semoga segala kesulitan yang saya ciptakan dan senantiasa kamu hadapi dengan sabar akan dibalas dengan keriangan hidup dari Tuhan.
Semoga kesabaran untuk mau bersahabat dengan saya yang selalu merasa benar di hadapanmu ini akan dibalas dengan kemanisan hidup yang tak mungkin kamu dapatkan ketika bersama saya.
Semoga beragam pertengkaran yang telah dan akan saya ciptakan di hari lalu dan di masa depan akan semakin menguatkanmu menghadapi kejamnya dunia.
Semoga segala kesedihan yang selalu saya hadirkan di hari-harimu bisa menjadi pengingat bagi segala kebahagiaan di setiap hela nafasmu.
Semoga perasaan “bukan apa-apa” yang selalu saya ciptakan untuk dirimu bisa memacumu untuk menjadi lebih besar, hingga tanpa sadar kamu telah menaklukkan mimpimu yang kata orang terlalu besar untuk dirimu.
Semoga kesemogaan ini bukan lagi menjadi sekadar semoga.
Selamat mengulang tahun, selamat berbahagia, Amrul.

Malang,
13 Juni 2016


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Widyarta Mega Paramita – All Rights Reserved.